{"id":1756,"date":"2025-06-30T21:39:53","date_gmt":"2025-06-30T21:39:53","guid":{"rendered":"https:\/\/www.telesto.app\/blog\/?p=1756"},"modified":"2025-06-30T21:39:54","modified_gmt":"2025-06-30T21:39:54","slug":"prinsip-bathtub-untuk-mengurangi-inventaris","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.telesto.app\/blog\/2025\/06\/30\/prinsip-bathtub-untuk-mengurangi-inventaris\/","title":{"rendered":"Prinsip Bathtub untuk Mengurangi Inventaris"},"content":{"rendered":"<p>Mengurangi atau menghilangkan kelebihan inventaris adalah salah satu cara paling efektif untuk menghemat uang, meningkatkan keuntungan, dan membebaskan ruang gudang yang berharga. Ini dapat dilakukan dengan meningkatkan output atau mengurangi input inventaris.<\/p>\n<p>Dalam manajemen inventaris, ini berarti dua tindakan utama:<\/p>\n<ol>\n<li>Memindahkan lebih banyak barang keluar dari inventaris<\/li>\n<li>Menambahkan lebih sedikit barang ke dalam inventaris<\/li>\n<\/ol>\n<p>Anda tidak memerlukan sistem yang rumit atau algoritma canggih untuk memulainya. Salah satu cara paling sederhana untuk memahami konsep ini adalah melalui <strong>prinsip bathtub<\/strong>, yang diperkenalkan oleh Phillip Slater dalam bukunya <em>Smart Inventory Solutions<\/em>.<\/p>\n<p>Prinsip bathtub membandingkan inventaris dengan air di dalam bak mandi. Untuk mengontrol tingkat air, Anda dapat menyesuaikan keran (input) atau saluran pembuangan (output). Demikian pula, untuk mengurangi inventaris, Anda bisa mengatur apa yang masuk atau apa yang keluar.<\/p>\n<p>Menurut Slater, ada tujuh strategi praktis yang bisa diterapkan untuk mengurangi inventaris:<\/p>\n<p><strong>#1: Simpan inventaris Anda di tempat lain<\/strong><br \/>\nGunakan sistem konsinyasi dengan membiarkan vendor memiliki dan mengelola sebagian inventaris. Ini mengurangi stok yang Anda simpan di lokasi dan menurunkan biaya overhead.<\/p>\n<p><strong>#2: Jual stok berlebih dan usang<\/strong><br \/>\nSingkirkan barang yang tidak lagi memberikan nilai. Barang-barang ini tidak hanya memakan tempat, tetapi juga bisa memiliki biaya penyimpanan tersembunyi atau potensi manfaat pajak saat dihapus dari pembukuan.<\/p>\n<p><strong>#3: Hilangkan duplikasi<\/strong><br \/>\nPastikan setiap item memiliki SKU atau EAN yang unik. Entri ganda dapat memperbesar jumlah inventaris dan menyebabkan pemesanan ulang yang tidak perlu.<\/p>\n<p><strong>#4: Ubah faktor yang memengaruhi stok pengaman<\/strong><br \/>\nTinjau ulang cara Anda menghitung stok pengaman. Optimalkan titik pemesanan ulang dan waktu tunggu agar hanya menyimpan barang yang benar-benar dibutuhkan tanpa mengorbankan permintaan.<\/p>\n<p><strong>#5: Kurangi jumlah pemesanan ulang<\/strong><br \/>\nTetapkan jumlah pemesanan ulang yang minimal namun cukup. Tujuannya adalah menghindari kelebihan stok sambil memastikan ketersediaan barang.<\/p>\n<p><strong>#6: Cocokkan pengiriman dengan penggunaan<\/strong><br \/>\nGunakan teknik seperti Just-in-Time (JIT) untuk menyelaraskan pengiriman dengan konsumsi aktual. Ini mengurangi waktu penyimpanan dan biaya.<\/p>\n<p><strong>#7: Kurangi nilai barang yang disimpan<\/strong><br \/>\nFokuskan pada pengurangan nilai barang yang ada di inventaris. Menyimpan barang dengan nilai rendah mengurangi risiko keuangan jika barang tersebut menjadi tidak laku.<\/p>\n<p>Kami akan membahas lebih lanjut setiap metode ini dalam posting selanjutnya untuk membantu Anda menerapkannya secara efektif dalam bisnis Anda.<\/p>\n<hr>\n<p><em><small>Sumber: Smart Inventory Solutions oleh Phillip Slater<\/small><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mengurangi atau menghilangkan kelebihan inventaris adalah salah satu cara paling efektif untuk menghemat uang, meningkatkan keuntungan, dan membebaskan ruang gudang&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1253,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[27],"tags":[],"class_list":["post-1756","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-indonesian-id"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.telesto.app\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1756","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.telesto.app\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.telesto.app\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.telesto.app\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.telesto.app\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1756"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.telesto.app\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1756\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1757,"href":"https:\/\/www.telesto.app\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1756\/revisions\/1757"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.telesto.app\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1253"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.telesto.app\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1756"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.telesto.app\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1756"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.telesto.app\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1756"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}